Selasa, 14 Oktober 2014

Lestarikan Kuliner Bumi Sriwijaya

SELAIN laut, Pakar Hukum Maritim UI Chandra Motik Yusuf ternyata punya kecintaan khusus terhadap kuliner Nusantara. Terbukti ia hobi mengumpulkan resep-resep makanan khas Sumatra Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi dan Bangka Belitung (Sumbagsel). Total 2 buku resep telah diterbitkan perempuan berdarah Palembang itu.

“Saya lihat di toko buku, enggak ada buku yang bahas mengenai masakan khas asal Sumbagsel. Makanya saya tertarik bikin buku-buku resep masakan khasnya. Supaya bisa tetap lestari,“ ujar Chandra saat ditemui Media Indonesia di ruang kerjanya di Kantor Hukum Chandra Motik & Associates, Menteng, Jakarta, Selasa (7/10).

Kecintaannya akan kuliner khas Sumbagsel diturunkan dari sang ibu yang hobi memasak. Meski lahir di Jakarta, sejak kecil perut Chandra dijejali masakan khas Palembang, seperti empek-empek, tekwan, dan tempoyak. Masakan dari resep `kuno' yakni ayam nanas dan ayam anam buatan sang ibu juga kerap mampir di perutnya.

“Ketika ibu sudah enggak ada, saya terinspirasi untuk bikin buku itu. Saya ingin supaya masakan-masakan yang dibuat ibu saya dulu resepnya tetap ada dan tidak dilupakan,“ imbuhnya.

Selain resep masakanmasakan khas yang populer, buku-buku yang dibuat Chandra pada 2001 dan 2002 itu juga memuat sejumlah resep masakan yang kini telah dilupakan. Salah satunya ialah makbi--rendang daging sapi yang rasanya manis.
“Tidak asin seperti rendang khas Padang, tapi dia manis.Mungkin seperti gepuk kalau di Jawa Barat. Sekarang mungkin sudah enggak ada yang bikin lagi di Palembang,“ tuturnya.

Dari semua masakan khas asal Sumbagsel, pindang dan ikan belida goreng menjadi favorit Chandra.Ikan belida goreng Setiap kali pulang kampung, perempuan yang gemar memelihara rambut panjang itu selalu menyempatkan diri menyantap ke dua masakan tersebut.
“Sayangnya belida goreng itu mahalnya minta ampun.Satu potong kecil saja bisa Rp50 ribu. Soalnya belida kan enggak bisa dibudi daya.Palembang aja sekarang katanya ngambil dari Jambi ikan belidanya,“ ungkap dia.

Saking nikmatnya, Chandra berkelakar, seseorang bisa lupa dunia sekitar ketika melahap ikan belida goreng khas Palembang. “Kalau orang Palembang bilangnya, `makanan enak, mertua lewat enggak dilihat',“ ujarnya.

Pada dasarnya, menurut Chandra, kebanyakan masakan Palembang berasal dari satu resep utama yang sama.Perbedaannya hanya terletak pada tambahan bumbu dan cara penyajian.

“Ragamnya macam-macam, tapi sebenarnya resepnya satu dipecah-pecah. Tek wan misalnya dikasih cuka namanya jadi model. Ada juga lenjeran, dikasih santen sedikit jadi adaan,“ jelas dia.

Lebih jauh, ia mengatakan, ada banyak masakan khas `Bumi Sriwijaya' yang bisa diangkat ke level internasio nal dan global. Selain empekempek dan tek wan yang cukup populer di level nasional, pindang patin dan ikan belida goreng juga potensial untuk diperkenalkan ke dunia luar seperti Rendang.

“Asal konsepnya adikuliner.Patin misalnya bisa dibikin sup. Diolah supaya sesuai dengan selera internasional.Tapi kekhasannya harus tetap ada. Dibuat bagus, international style. Thailand saja bisa (masakannya mendunia).Padahal, rasa masakan kita kan enggak jauh beda sama Thailand,“ ujar dia.

Ketika ditanya apakah ia termasuk perempuan yang hobi dan jago masak, Chandra tersenyum. Ia mengakui sudah jarang memasak karena kesibukannya di kantor dan sebagai pengajar di kampus.Namun demikian, sesekali ia menyempatkan diri memasak untuk keluarga.

“Yang paling jago masak di keluarga sebenarnya kakak saya.Dia bisa bikin masakan apa saja dan enak rasanya. Kalau saya sudah susah punya waktu untuk masak,“ kata Chandra merendah. (Deo/M-5) Media Indonesia, 13/10/2014, hal : 25