Selasa, 21 Oktober 2014

Pencemaran Udara di Palembang Berbahaya Dan Merugikan

Curah hujan di Kota Palembang Sumatera Selatan Sabtu Siang sekitar pukul dua siang walaupun tidak begitu lebat. Dan sempat membuat listrik padam di daerah permukiman penduduk Maskarebet KM 11 dan sekitarnya seperti yang diberitakan antaranews.com

Tentunya masyarakat Kota Palembang sangat bergembira karena masalah kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan selama puncak musim kemarau sejak September lalu dapat diatasi dengan guyuran air hujan pada daerah yang terbakar. Ucapan puji syukur terucap dari mulut beberapa warga karena hujan yang dapat membasahi Bumi Sriwijaya.

Namun seperti yang diberitakan AntaraNews.com, Selasa, 21 Oktober 2014, kualitas udara masih berbahaya untuk kesehatan. Seperti yang diinformasikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo mengatakan kualitas udara di Palembang sangat buruk disebabkan oleh kebakaran hutan dengan Indeks Standar Pencemaran Udah (ISPU) di angka 418.

Diharapkan masyarakat dapat mengurangi aktifitas diluar rumah, dan juga semakin ketat menjaga kesehatan. Dan marilah kita sama-sama berdoa agar kualitas udara di Palembang kembali baik dan normal. TEntunya semua masyarakat sangat berharap agar curah hujan semakin tinggi untuk beberapa waktu ke depan. Agar kabut asap yang mengerumini udara di Bumi Sriwijaya bisa disapu bersih oleh hujan.

Seperti yang diberitakan oleh Media Indonesia, 27/09/2014, Bandara Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sumatra Selatan sempat ditutup sementara waktu. Tentunya hal ini cukup membuat beberapa bidang usaha dihantam badai seketika.

Seperti contoh Raymod Hendrik pengusaha rental mobil Palembang, disebabkan kabut asap yang mengganggu penerbangan membaut orderannya menjadi cancel. Padahal sekitar 13 orang konsumennya yang akan mendarat hari itu akan menyewa mobil. Namun apa hendak dikata, aktifitas penerbangan terganggu sejak pagi dan pesawat turun pun tidak bisa. “Apa hendak dikata, orderan sudah ada tapi pesawat gak bisa mendarat,” ujar Raymond.

Dan bukan hanya Raymond yang merasakan kesialan dengan musibah kabut asap ini. Maskapai penerbangan juga merasakan dampak kerugian dengan terhambatnya aktifitas penerbangan di Palembang.